Selasa, Februari 19, 2013

Warga Harus Waspada Penyakit Menular



Masyarakat Harus Berani Melapor
Tindakan Bupati Kupang, Ayub Titu Eki untuk memperbaiki sistem pemerintahanya, masyarakat setempat diberi ruang kebebasan penuh untuk berani membuat laporan tertulis lengkap dengan data terhadap segala pelayanan pemerintahan yang belum optimal. Termasuk salah satunya pelayanan kesehatan yang dianggap masih jauh dari harapan masyarakat Kabupaten Kupang.

 
Bupati Kupang
Di sela-sela berlangsungnya Sidang III DPRD Kabupaten Kupang, Bupati Kupang Ayub Titu Eki kepada TIMORense mengatakan, persoalan kesehatan perlu dilakukan pembenahan, Sebab, untuk mengukur kinerja Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kupang dari tahun ke tahun belum dapat dilakukan.  Ada dalam sistem yang begitu rumit dan banyak persoalan sehingga belum cermat mengamatinya. Tapi dari perkembangan informasi dan juga laporan masyarakat menunjukan, pelayanan kesehatan masyarakat Kabupaten Kupang dianggap jalan di tempat, malah ada yang tambah buruk.
“Saya harapkan ada masukan dari masyarakat dari kondisi yang tidak berubah itu, supaya saya tahu staf yang membantu saya itu kerjanya belum optimal”, pinta Bupati Kupang, agar masyarakat memberikan datanya akurat agar diketahui, dari  kesalahan dan kelalaian yang dilakukan telah membuat situasi tidak berubah.
Dia mengatakan,  stafnya dalam melakukan koordinasi hanya sebatas secepatnya menghabiskan anggaran dibandingkan melayani masyarakat. Atas kondisi itu, terkadang Bupati Kupang harus mengeluarkan peringatan keras pada bawahannya, seperti yang dicontohkan beberapa program yang telah diinstruksikan sejak awal menjadi Bupati Kupang hingga kini pelaksanaannya belum maksimal. “Ini  mental yang terjadi dalam diri kita yang harus dibongkar secara perlahan. Saya butuh saran, kritik dan masukan masyarakat agar dibenahi”, harap Ayub Titu Eki.
Ia juga menegaskan, seharusnya tidak ada kalimat bahwa pelayanan belum optimal di tingkat Puskesmas maupun Pustu, karena semua anggaran yang diberikan tidak pernah kurang dan selalu habis. Seharusnya Dinkes tidak ada alasan mengalami kekurangan dalam melakukan pelayanan kesehatan bagi masyarakat. “Bilang alasannya kurang ya..kurang tapi apapun kita harus bekerja sesuai apa yang kita miliki, kenapa  daerah lain juga kurang seperti kita tapi mereka melaksanakan tugasnya lebih baik”, ungkap ungkap Bupati Kupang, seraya menyinggung jika dikatakan adanya kelemahan berkoordinasi dan juga kurangnya fasilitas kesehatan tapi bukan mengurus masyarakat malah pimpinan dinas dan sejumlah stafnya melakukan tamasya di luar negeri.
“Bila Itu jawabannya, hanya untuk membela diri, buktinya pernah saya berkunjung di sebuah Pustu ada dua orang petugas tapi tiap harinya hanya satu orang yang datang mengisi absen untuk berdua”, timpalnya lagi.
Sebagai kepala daerah, Bupati Kupang mengakui selalu lemah dalam mengontrol sistem penganggaran tiap dinas teknis, sehingga dalam daftar isian pelaksanaan anggaran (DIPA) tiap dinas, apakah ada dana untuk tindakan preventif. “Bila puskesmas ada dana untuk tindakan preventif dan habis terpakai dengan bukti tandatangan, tapi tidak pernah turun kegiatan penyuluhan maka saya akan bongkar mereka namun harus ada informasi dan bukti yang kuat dengan laporan jelas dari masyarakat”, papar Ayub Titu Eki.
Atas persoalan ini, TIMORense melakukan konfirmasi dengan pihak Dinas Kesehatan Kabupaten Kupang beberapa kali sejak (5/12) lalu, hanya pimpinannya dr. Merserasi Ataupah diinformasikan sedang melakukan perjalanan dinas ke Jakarta. Sekretarisnya Florensia Lulan mengatakan tidak memiliki kewenangan untuk diwawancarai karena belum mendapat persetujuan pimpinan. Tapi Lulan sempat mengatakan, dinas kesehatan Kabupaten Kupang tetap melakukan fungsinya melalui empat bidang yang ada, dengan mengoptimalkan koordinasi. “Kami akui masih lemah pada koordinasi dan fasilitas sebab wilayahnya yang luas”, ucapnya.
Hal yang sama terjadi di Puskesmas Tarus yang pekan lalu (5/12) beberapa kali kepala puskesmasnya ingin ditemui tapi tidak berada di tempat dengan alasan pimpinannya sedang izin dinas. Namun bagian tata usahanya juga keberatan memberikan komentar karena tidak mendapat mandat dari pimpinan Puskesmas. Situasi ini mempertegas bagi mereka yang bertugas dalam wilayah ibukota kabupaten yang gampang dikontrol saja sering meninggalkan tugas. Bagaimana dengan Pustu atau Puskesmas yang jauh di pelosok, tentu disiplin kehadiran pimpinan maupun stafnya patut dipertanyakan. (*) 


Dinkes Lamban Berinovasi
Secara geografis wilayah Kabupaten Kupang sangat luas. Jarak tempuh antarkecamatan dan desa sangat berjauhan. Belum lagi sarana infrastruktur yang minim. Kondisi tersebut terkadang menjadi jurus kunci dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kupang untuk mengelak dari tanggungjawabnya dalam mengoptimalkan pelayanan kesehatan bagi warga desa terpencil. Padahal, situasi yang sama selalu terjadi tiap tahun. Tentunya, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kupang melalui dinas terkait, sudah memiliki strategi jitu dengan terus berinovasi menyelesaikan persoalan kesehatan.
Yos Lede
Yang sering kita dengar atau jumpai saat memasuki musim penghujan, selalu muncul berbagai wabah penyakit, mulai dari flu ringan hingga demam berdarah, diare, muntaber, ISPA (infeksi saluran pernapasan atas), dan penyakit menular yang menyerang urin manusia akibat terjangkit dari air kencing tikus yang terbawa banjir dan masuk dalam tubuh penderita melalui luka, selaput lendir mata maupun hidung atau disebut bakteri lepstopira.

Sebenarnya berbagai penyakit yang timbul akibat minim informasi dan kesadaran hidup sehat. Namun. semua dapat diminimalisir sejak dini.  Program preventif dari Dinkes Kabupaten Kupang berjalan optimal dengan melibatkan aparatur kecamatan sampai tingkat desa termasuk masyarakat. “Paling tidak bila ada kejadian luar biasa ketersediaan obat-obatan cukup dan ketersediaan dana tak terduga. Tapi seharusnya jauh-jauh hari dilakukan langkah nyata, jangan sudah terjadi baru semuanya kelabakan”, ungkap anggota DPRD Kabupaten Kupang Yos Lede pada TIMORense.
Padahal, tiap pertemuan pihak Dewan Kabupaten Kupang selalu mengupayakan agar Dinkes mengoptimalkan tenaga medisnya yang terbatas dengan segala fasilitasnya, supaya pelayanan kesehatan pada tingkat puskesmas maupun puskesmas pembantu (Pustu) terutama daerah terpencil terus beroperasi. Karena diakui, saat ini keterbatasan kucuran dana  APBD juga berdampak pada pengadaan sarana maupun tenaga medis di lapangan. “Paling kurang ada antisipasi dini, dan pimpinan dinas terkait harus membuat terobosan dan inovasi dengan melakukan koordinasi pada Dinkes Provinsi NTT maupun  Pusat, agar persoalan tahunan ini dapat diminimalisir”, pintanya.
Sehingga, menurut Lede, jika persoalan kesehatan masyarakat tidak pernah teratasi, tentu kinerja Dinkes Kabupaten Kupang dianggap mengalami kemunduran. Sebab, fakta berbicara selama ini, jika musibah telah terjadi dan ada korban barulah Pemerintah dan Dinkes beramai-ramai memberikan bantuan, yang seharusnya dapat diantisipasi atau diminimalisasi sebelum kejadian.
Ada identifikasi, wabah penyakit paling banyak terjadi pada musim penghujan, yakni  malaria dan muntaber. Sebab, banyak warga terutama di daerah pelosok, belum paham cara mengantisipasi dan melakukan pertolongan pertama jika ada yang warganya terjangkit. Diperparah lagi, kurangnya sosialisasi serta penyuluhan kesehatan dengan alasan yang beragam. “Kita bukan berbicara pos anggaran besar atau kecil, tapi diharapkan penyuluhan harus terus dilakukan dinas sampai masyarakat melaksanakannya, minimal untuk mengantisipasi awal harus ada”, saran dari kader Partai Gerindra ini.
Apa lagi dari fungsi pengawasan, dewan terus berupaya agar Dinkes Kabupaten Kupang melakukan lobi kerjasama dengan berbagai pihak untuk mendukung pelayanan kesehatan di wilayah Kabupaten Kupang. Sebab, dalam pembahasan anggaran, kendala dana terbatas, telah menjadi nyanyian wajib dari Dinkes. Sebab, anggaran yang disediakan belum dapat mengimbangi pelayanan kesehatan di wilayah Kabupaten Kupang, yang seharusnya kendala tersebut bukan persoalan karena situasi ini telah dialami setiap tahun dan pastinya sudah harus ada solusinya.
“Untuk bicara dana, tentu telah diperhitungkan semuanya dan kami mengakomodir sesuai permintaan. Kita tidak pernah potong permintaan yang diajukan, karena itu bersentuhan langsung dengan kebutuhan masyarakat dan dana monitoring yang disetujui untuk menunjang pemantauan pelayanan kesehatan”, tandas anggota Komisi C tersebut, dan mengatakan pemangkasan dana hanya dilakukan untuk biaya perjalanan dinas yang dianggap lebih besar dari dana pelayanan kesehatan. 
 
Optimalkan Pelayanan dengan Keterbatasan
Abdul Kadir
Kondisi berbeda saat kepala Puskesmas Oesao, Abdul Kadir yang ditemui di ruang kerjanya pekan lalu. Dia   mengungkapkan, pihaknya selalu mengoptimalkan pelayanan dengan dibantu 11 Pustu yang saat ini tersebar pada delapan desa dan lima kelurahan, yang tiap Pustu-nya bertugas satu atau dua orang bidan. Karena keterbatasan personil, para bidan Pustu telah dibekali keahlian dapat merangkap fungsinya sebagai sanitarian, bidan, perawat, tenaga gizi maupun sebagai dokter yang nantinya dibantu para kader setempat.  “Bila dalam pelayanan mengalami kesulitan, bidan tersebut dapat langsung konsultasi ke Puskesmas untuk dibantu”, jelas Kadir.
Dirinya juga mengakui, tiap tahun dalam memasuki musim hujan antara bulan Desember hingga Maret selalu ada peningkatan pasien yang menderita diare, ISPA dan penyakit kulit lainnya. Tetapi, tidak menjadi wabah penyakit seperti diungkapkan Kadir, yang pernah terjadi tiga tahun silam tepatnya 2010 lalu. Saat itu, sejumlah desa di Oesao terendam luapan banjir akibat hujan. Sehingga, banyak warga yang mengungsi dan mengalami berbagai penyakit.
Karena itulah, pihak Puskesmas Oesao sebelum masuk musim hujan selalu mengadakan sosialisasi pencegahan dengan memanfaatkan kegiatan Posyandu tiap bulannya. Ada juga pembagian karporit untuk sumber air minum masyarakat setiap tiga bulannya dan obat bubuk abate pada penampungan air. Hal yang selalu diantisipasi pihak Puskesmas Oesao adalah ketersediaan karporit untuk setiap sumur milik warga yang nanti wilayahnya terendam banjir.
“Kami selalu sarankan agar bidan harus tinggal di tempat tugas, sebagai cara untuk menurunkan angka kematian ibu dan anak saat melahirkan. Jadi, tugas harus ada tanggungjawab”, ucap Kadir.
Sebagai langkah antisipasi banyaknya kasus ibu dan bayi tidak tertolong saat melahirkan karena bidan tidak berada di tempat, pihak Puskesmas Oesao yakin persoalan itu dapat diatasi dengan ketersediaan obat-obatan. Ditambah pula tersedianya pelayanan rawat inap dengan fasilitas 24 tempat tidur terutama bagi pasien yang harus dirawat inap. Sebab, Puskesmas Oesao juga telah memiliki dokter umum sebanyak tiga orang, 12 orang perawat dan bidan 24 orang.
Untuk pelayanan di Pustu, menurut Kadir, saat ini fasilitas pendukung pelayanan pada pustu-pustu masih banyak yang belum lengkap, seperti ketersediaan listrik, air bersih dan juga kursi maupun meja.
Untuk memenuhi permintaan Pustu, menurut dia, butuh waktu lima hingga enam tahun ke depan. Sebab, usulannya harus melalui Musrenbangdes. Tapi dirinya yakin pelayanan untuk penanganan pertama bagi pasien akibat luka sayatan dapat dilakukan di pustu. “Bila ada yang darurat dan tidak bisa ditangani puskesmas biasanya pasien langsung dirujuk ke RSU W.Z. Yohanis Kupang karena untuk RSU Naibonat juga peralatan medisnya masih terbatas, Hal ini juga yang diinginkan kebanyakan keluarga pasien”, pungkas Kadir. (*)

Tidak ada komentar: